JADWAL IMSAKIYAH RAMADHAN 1432 H - 2011

Rabu, 22 Desember 2010

PARADE SAJAK UNTUK "IBU"

"Sajak Ibunda"

WS Rendra

mengenangkan ibua dalah mengenang buah-buahan.
istri adalah makanan utama. pacar adalah lauk pauk.
dan Ibu adalah pelengkap sempurna. kenduri besar kehidupan.
wajahnya adalah langit senjakala
keagungan hari yang telah merampungkan tugasnya.
suaranya menjadi gema dari bisikan hati nuraniku.

mengingat ibu, aku melihat janji baik kehidupan.
mendengar suara ibu, aku percaya akan kebaikan hati manusia.
melihat foto ibu, aku mewarisi naluri kejadian alam semesta.
berbicara dengan kamu, saudara-saudaraku,
aku pun ingat bahwa kamu juga punya ibu.

aku jabat tanganmu, aku peluk kamu di dalam persahabatan.
kita tidak ingin saling menyakitkan hati,
agar kita kita tidak saling menghina ibu kita masing-masing
yang selalu, bagai bumi, air dan langit,membela kita dengan kewajaran.
maling punya ibu. Pembunuh punya ibu.demikian pula koruptor,
tiran, facist,wartawan amplop, dan anggota parlemen yang dibeli,
mereka pun juga punya ibu. macam manakah ibu mereka?
apakah ibu mereka bukan merpati di langit jiwa?
apakah ibu mereka bukan pintu kepada alam?

ibu, kini aku mengerti nilaimu.
kamu adalah tugu kehidupanku, yang tidak dibikin-bikin dan hambar
seperti Monas dan Taman Mini. kamu adalah Indonesia raya.
kamu adalah hujan yang kulihat di desa.
kamu adalah hutan di sekitar telaga.
kamu adalah teratai kedamaian samadhi.
kamu adalah kidung rakyat jelata.
kamu adalah kiblat hati nurani di dalam kelakuanku


"Ibu"

D. Zawawi Imron

kalau aku merantau lalu datang musim kemarau
sumur-sumur kering, daunan pun gugur bersama reranting
hanya mataair airmatamu ibu, yang tetap lancar mengalir
bila aku merantau aku ingat sedap kopyor susumu dan ronta kenakalanku
di hati ada mayang siwalan memutikkan sari-sari kerinduan
lantaran hutangku padamu tak kuasa aku bayar

ibu adalah gua pertapaanku
dan ibulah yang meletakkan aku di sini
saat bunga kembang menyerbak bau sayang ibu menunjuk ke langit,
kemudian ke bumiaku mengangguk meskipun kurang mengerti
bila kasihmu ibarat samudra sempit lautan teduhtempatku mandi,
mencuci lumut pada diritempatku berlayar,
menebar pukat dan melempar sauhlokan-lokan,
mutiara dan kembang laut semua bagiku

kalau aku ikut ujian lalu ditanya tentang pahlawan
namamu ibu, yang akan kusebut paling dahulu
lantaran aku tahu engkau ibu dan aku anakmu
bila aku berlayar lalu datang angin sakal Tuhan
yang ibu tunjukkan telah kukenal
ibulah itu , bidadari yang berselendang bianglala
sesekali datang padaku
menyuruhku menulis langit biru dengan sajakku

1966


"Cinta Ibu"

KH Mustofa Bisri

seorang ibu mendekap anaknya yang durhaka saat sekarat
airmatanya menetes-netes di wajah yang gelap dan pucat
anaknya yang sejak di rahim diharap-harapkan menjadi cahaya
setidaknya dalam dirinya
dan berkata “anakku jangan risaukan dosa-dosamu kepadaku,
sebutlah namaNya, sebutlah namaNya”
dari mulut si anak yang gelepotan lumpur dan darah
terdengar sedis mirip upaya sia-sia
sebelum semuanya terpaku
kaku

2000

"Perempuan itu menggerus garam"

Gunawan Muhammad

perempuan itu menggerus garam pada cobek
di sudut dapur yang kekal
“aku akan menciptakan harapan” katanya, pada batu hitam
Asap tidak pernah singkat.
Bubungan seperti warna dunia dalam mimpi Yeremiah

Ia sendiri melamunkan ikan, yang berenang di akuarium,
Seperti balon-balon malas yang tak menyadari warnanya,
Ungkapannya, di angkasa. “merekalah yang bermimpi”,
katanya dalam hati.

Tapi ia sendiri bermimpi. Ia mimpikan busut-busut terigu,
yang turun, seperti hujan menggerutu. Di sebuah ladang.
Enam orang berlari seakan ketakutan akan matahari.
“Itu semua anakku”, katanya.
“Semua anakku”

Ia tidak tahu ke mana mereka pergi, karena sejak itu
tidak ada yang pulang.
Si bungsu, dari sebuah kota Rusia, tak pernah menulis surat.
Si sulung hilang. Empat saudara kandungnya
hanya sempat mengirimkan sebuah kalimat
“Mak, kami hanya pengkhianat”.

Barangkali masih ada seorang gadis, di sajadah yang jauh,
atau mungkin mimpi itu hanya kembali),
yang tak mengenalnya. Ia sering berpesan dengan bahasa diam
asap pabrik. Ia tak berani tahu siapa dia, ia tidak berani tahu.

Perempuan itu hanya menggerus garam pada cobek
di sudut dapur yang kekal.

1995



"Keranda"

Joko Pinurbo

Ranjang meminta kembali tubuh
Yang pernah dilahirkan dan diasuhnya
Dengan sepenuh cinta.

“Semoga anakku yang pemberani,
yang jauh merantau ke negeri-negeri igauan
menemukan jalan untuk pulang;
pun jika aku sudah lapuk dan karatan.”

Tapi tubuh sudah begitu jauh mengembara.
Kalaupun sesekali datang, ia datang
hanya untuk menabung luka.

Dan ketika akhirnya pulang
ia sudah mayat tinggal rangka.

Ranjang yang demikian tegar lagi penyabar
memeluknya erat: “aku rela jadi keranda untukmu.”

1996

"Perempuan itu bernama Ibu"

Dorothea Rosa Herliany

kupanggil ia ibu seluruh waktu,
perempuan dengan kebaya di ladang
menanam benih berabad menyebar dan menuai,
tak mengerti mengapa tak menolak segala,
mengapa menggigil dalam igau dan tak meronta.

ibu yang tak membaca buku-buku
dan tak menonton iklan layanan,
berdiri di luar gedung pertemuan
dan tak terlihat di antara kerumunan unjukrasa.

ia sendiri membajak sawah,
menyebar benih dan menuai kesunyian.

berabad kupanggil ia ibu kesunyian,
mengeja erangan sendiri yang bisu dan kosong,
membaca dongeng lelaki yang menempelkan dengus di zakarnya.

ibu yang tak menangisi kekecewaan
menerima dengan dekapan tulus, dengan pangkuan hangat
sepuluh rahwana yang memburunya.

kupanggil ia ibu
perempuan yang menyimpan satu birahi untuk Rama yang menolaknya.
menerima kobaran api dan rintihan yang mengalirkan kesucian cinta.

berabad kupanggil ia ibu,
yang sendirian dan menangis.
menanti benih benih berabad tak tumbuh menjadi kehidupan
ilalang liar dan gundukan tanah dengan rumput kering,
kupanggil ia ibu yang berias daun bayam
menanak tiwul untuk seratus bocah lapar
dan memulas dahaga dengan harum keringatnya.

kupanggil ia ibu
yang bercermin gerimis sepanjang musim
menghitung jembar sawah berhektar
dan kebun rimbun kebijakan.

aku menangis melihat seribu lelaki
memperkosaku tak hentihenti

Maret, 2000


"Sajak Ibu"

Wiji Thukul

ibu pernah mengusirku minggat dari rumah
tetapi menangis ketika aku susah
ibu tak bisa memejamkan mata
bila adikku tak bisa tidur karena lapar
ibu akan marah besarbila kami merebut jatah makan yang bukan hak kami

ibuku memberi pelajaran keadilan dengan kasih sayang
ketabahan ibuku mengubah rasa sayur murah jadi sedap
ibu menangis ketika aku mendapat susah
ibu menangis ketika aku bahagia
ibu menangis ketika adikku mencuri sepeda
ibu menangis ketika adikku keluar penjara

ibu adalah hati yang rela menerima
selalu disakiti oleh anak-anaknya
penuh maaf dan ampunkasih sayang
ibu adalah kilau sinar kegaiban tuhan
membangkitkan haru insan dengan kebajikan
ibu mengenalkan aku kepada tuhan

solo,1986

"Catatan ibu"

Nenden Lilis

tak kutemukan catatan atau jejak nasib
pada garis tanganku
kecuali masa-masa yang tertahan dan menumpuk
di matamu ibu, dan telah menjadi tugu

tak ada kenangan yang bergoyang dan tersenyum
di antara dahan-dahan anggrek di taman rumah
angin menguburkannya di bukit-bukit dan gunung
yang mengelilingi hidup kita
dan tak mampu meramal masa datangku

ketika suaramu semakin parau
tubuhmu kian tipis
tak beranjak dari depan tungku

1996


Dalam Genggaman Cinta mu


Ibu....Dalam genggaman cintamu
Dulu aku masih dalam buaian cintamu
Dulu kau memblaiku dengan sayang
Dulu kau memelukku dngan kehangatan
Dulu kau lindungi aku dari segala bahaya
Dulu kau selalu membawaku kemanapun kau pergi

Dan...kini aku telah dewasa
Yang selalu memikirkan diriku sendiri
Yang selalu pergi kemanapun yang aku suka tanpa mu
Yang selalu melakukan tindakan tanpa izinmu
Yang merasa tidak serasi berjlan dngan mu

Ibu...Aku tahu hatimu terluka
Saat aku berkta kasar padamu
Saat tingkahku tak sesuai dengan ajaranmu
Saat ku tak lagi menuruti nasihatmu
Saat ku tak lagi perduli dengan mu

Ibu...
Maafkanlah aku
Yang jarang mengingat buaian mu
Yang lupa akan kasih sayang mu
Yang selalu sok tahu dan sok pintar akan hidupku
Keluh ku kau dengarkan, tapi tangismu ku hiraukan

Ibu...
Suatu saat aku akan seperti mu
Menjadi ibu dari anak-anak ku
Saat segenap raga kan kuberikan untuk anak-anakku
Sama seperti kau memberikan waktu dan cintamu hanya untuk ku

Ibu...
Maafkan aku
Yang tak begitu memperhatikan kesehatanku
Yang tak memperdulikan berapa kerutan diwajah mu
Yang yak merasakan tangis dan ceria mu
yang tak pernah memberikan kebanggaan padamu

kini aku hanya bisa menyesali dan berdoa untuk mu
Saat hujan tak lagi menyapa mu
Saat butiran-butiran pasir mulai membentuk gundukan
Hingga hanya nisanmu yang basah dan menguning


Sering ku

Seringku merenung
Dalam dekapan nafas yang pilu
Yang terbuang seolah tak berarti
Tapi bagimu aku berarti untuk mu

Sering ku merenung
Saying mu pada ku
Tak hilang oleh secercah noda
Cinta mu tak lekang oleh zaman
Selalu abadi dalam hati ku


Bandar Lampung, 19 Desember 2007

"Cerita mu"

Lelah mu hilang
Saat aku kecil tersenyum manja
Duka mu sirna
Saat aku mungil tertawa kecil
Pilu mu lekang
Saat kau tatap wajah kecil ku
Dulu aku penghapus segala kelelahanmu
Dulu aku pelerai segala keangkuhan
Kini aku bersembunyi dalam
Wajah manismu

Ibu….
Aku sayang padamu
Maski aku tak bias mengakannya
Meski aku malu untuk mengungkapkannya
Semoga kau tahu isi hati ku

Bandar Lampung, 19 Desember 2007


"Kau Bilang"

Ibu….
Kau bilang aku mutiara mu
Kau bilang aku separoh nafas mu
Kau bilang aku adalah nyawamu
Kau bilang aku adalah cahaya mu

Ibu…
Tapi aku tak pernah bilang begitu
Bahkan aku sering melupakanmu
Sering aku tak pedulikanmu
Pun aku terasa jauh dari mu

Ibu…
Desahan nafasmu kau berikan untuk ku
Kasih saying mu kau berikan juga untuk ku
Cinta mu pun juga untuk ku
Tapi, apa yang sudah aku berikan untuk mu?

Ibu…Apakah aku masih menjadi mutiara mu?
Apakah aku masih menjadi separoh nafasmu?
Apakah aku masih sebagian nyawamu?
Dan apakah aku masih menjadi cahaya mu?

Bandar Lampung, 19 Desember 2007

"Aku Mengert"i


Kau tak perlu berkata cinta
Dengan bicara mu ku Tahu kau cinta pada ku
Kau tak perlu berkata saying
Setiap gerik mu selalu untuk ku
Kau tak perlu berkata rindu
Dari tatapan mu yang lembut saja aku mengerti
Kau tak perlu berkata “Ibu bangga”
Dengan senyum tulus dan haru mu aku mengerti
Kau tak perlu berkata kecewa
Dengan sedihmu aku memahami
Kau tak perlu berkata sedih dengan desahmu aku menyadari

Ibu…
Tanpa kau berkata apapun
Aku bias memahamimu
Dari setiap gerak tubuh mu
Dari setiap tutur kata mu
Dari setiap olahan wajahmu

NR. Kartini SURIADIKUSUMAH

Tidak ada komentar:

Posting Komentar