JADWAL IMSAKIYAH RAMADHAN 1432 H - 2011

Minggu, 05 Desember 2010

Peluang Laba di Bisnis Waralaba

Tanggal: 05 Maret 2009
Sumber: Infobanknews.com
Bisnis waralaba atau franchise diyakini sebagai bisnis yang memiliki daya tahan lebih. Masihkah peluangnya secerah tahun sebelumnya? Novita Adi Wibawanti

WARALABA atau yang akrab disebut franchise diyakini sebagian pelaku bisnis sebagai bisnis yang terus memberikan peluang, kendati keadaan ekonomi saat ini sedang tak menguntungkan. Bisnis ini tetap berkibar seperti halnya sektor riil yang lain, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) misalnya. Bisnis ini juga terbukti mampu bertahan terhadap gempuran krisis 1997 lalu.

Tak heran jika kemudian banyak orang melirik bisnis ini karena dinilai aman. Perkembangannya pun cukup pesat dari tahun ke tahun. Jumlah usaha di bidang waralaba terus bertambah, baik asing maupun lokal. Angka pertumbuhannya cukup mengagumkan.

Bisnis waralaba mulai menjalar ke Indonesia sekitar 1970-an, yang ditandai dengan bermunculannya restoran-restoran cepat saji. Bahkan, sebagian besar di antaranya sudah punya nama dan tergolong besar, semisal Kentucky Fried Chicken (KFC) dan Pizza Hut.

Kurun 1970 hingga 1992, bisnis waralaba di Indonesia terus bergerak positif dengan jumlah perusahaan sebanyak 35 buah. Waralaba asing mendominasi, yaitu sebanyak 29. Sisanya merupakan waralaba lokal. Periode 1992 hingga 1997, pertumbuhan waralaba asing mencapai 710%. Sementara, waralaba lokal 400%, dari 6 perusahaan menjadi 30 perusahaan.

Pada 1997 krisis moneter menghantam perekonomian Indonesia. Keadaan ini pun berpengaruh terhadap waralaba asing. Pertumbuhan waralaba asing menurun seiring dengan terpuruknya nilai tukar rupiah. Penurunannya sebesar -9,78% dari 1997 sampai dengan 2001. Sebaliknya, waralaba lokal justru mengalami pening-katan pertumbuhan rata-rata 30%.

Pada 2001 waralaba asing dan juga waralaba lokal kembali mengalami pertumbuhan positif. Waralaba asing tumbuh 8,5%, sedangkan waralaba lokal meningkat 7,69% dari 2000.

Tak berhenti sampai di situ. Mulai 2002 hingga 2007 bisnis ini kian menggurita. Tahun 2002 tak kurang dari 259 waralaba tumbuh di Indonesia. Dengan komposisi, 212 merupakan waralaba asing dan 47 waralaba lokal. Tahun 2003, jumlah waralaba yang beroperasi di Indonesia mengalami penurunan menjadi total 239 wara-laba.

Setelah 2003 berlalu, bisnis ini tumbuh seperti jamur di musim hujan, baik waralaba asing maupun waralaba lokal, yaitu dari 285 (2004) menjadi 700 pemain (2007).

Catatan yang lebih menakjubkan terjadi pada 2008 lalu. Hingga akhir 2008 Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) mencatat, jumlah waralaba yang beroprasi di Indonesia mencapai sekitar 9.600.

Pergerakan angka pertumbuhan bisnis ini pada dua tahun terakhir juga menunjukkan perubahan. Jika pada tahun sebelumnya, angka gemilang selalu diukir waralaba asing, pada 2007 dan 2008 waralaba lokal mulai menunjukkan taring. Angka pertumbuhan yang dicatat waralaba lokal pun selalu lebih tinggi daripada pemain asing.

Sebut saja pada 2007. Dari total 700-an waralaba, 450 di antaranya merupakan waralaba lokal. Begitu pula yang terjadi pada 2008. Dari sekitar 9.600 waralaba, sekitar 700 merupakan waralaba lokal.

Kendati demikian, ratusan waralaba lokal yang ada itu tidak seluruhnya masuk kategori bisnis murni waralaba. Jumlah waralaba lokal tercatat sekitar 700-an (2008), namun yang murni waralaba hanya sekitar 75. Sisanya masih merupakan business opportunity (BO).

Mengapa hanya 75 yang murni wara-laba? Menurut Anang Sukandar, Ketua AFI, sebuah bisnis bisa disebut waralaba apabila memiliki beberapa kriteria berikut: sukses, punya keunikan, punya model, bisa distandardisasi, punya consumer base, punya produk dan jasa, bisa dengan cepat di-ajarkan, dan menguntungkan.

Namun, bukan berarti BO yang seka-rang tumbuh subur itu tidak ada kemungkinan menjadi waralaba murni. Terlebih bagi BO yang usahanya terus menguat, pu-nya model, dan keunikan.

Begitu juga untuk waralaba murni. Pelan tapi pasti keberadaannya terus meningkat. Meski, pertumbuhannya pada 2008 hanya sekitar 3% dan masih tetap di angka yang sama untuk prediksi pada tahun ini. Pertumbuhan pesat masih dipegang BO dan waralaba asing.

Terlepas dari itu, bisnis waralaba tentu masih menggiurkan. Tengok saja dari jumlah pemain yang terus bertambah dari tahun ke tahun. Sebagai catatan, sales bisnis ini mencapai sekitar Rp8 triliun lebih pada 2007. Jumlah outlet asing maupun lokal sekitar 40.000 dan menciptakan sekitar 500.000 lebih lapangan pekerjaan.

Krisis memang berpengaruh terhadap pemutusan hubungan kerja (PHK). Na-mun, hal sebaliknya terjadi di bisnis waralaba. Peluang untuk terus tumbuh dan berkembang selalu ada untuk bisnis ini. Bisnis ini bisa dijadikan alternatif lain di tengah krisis.

Berbisnis dalam situasi krisis seperti ini memang tidak mudah. Sektor riil dihadapkan pada ambruknya daya beli masyarakat. Karena itu, tantangan terbesar bagi para pelaku usaha di bisnis waralaba adalah menciptakan kiat-kiat untuk menarik pembeli.

�Ini bisa diatasi jika pemilik bisnis ini memiliki jiwa wirausaha. Ia akan mencipta-kan paket-paket khusus untuk menarik pembali. Entah itu dengan buy one get one atau apalah,� ujar Anang.

Bisnis ini dihadapkan pada persoalan manajemen, organisasi, dan tata kelola. Kendati dijalankan, tidak tertib. Orientasi selalu pada profit. Inilah yang kemudian membuat bisnis mereka ambruk.

Meski begitu, pada 2009 ini beberapa bidang masih akan berpeluang untuk terus berkibar di bisnis waralaba, terutama kebutuhan sehari-hari, seperti makanan, minuman, pendidikan, salon, dan pusat kebugaran (fitnes center).

Bisnia waralaba tidak hanya bisa dijalankan di perkotaan. Di daerah pun cukup besar potensinya untuk tumbuh. Hal itu bisa dilihat dari usaha minimarket dan apotek yang mulai merambah daerah.

Selama ini waralaba asing memang tumbuh dengan subur di Indonesia karena ditopang usaha yang kuat dan besar. Tapi, bukan berarti tak ada peluang bagi waralaba lokal untuk tumbuh dan berkembang. Malah, waralaba lokal sudah menembus pasar luar, terutama untuk usaha-usaha yang bercirikan Indonesia, seperti makan-an, kerajinan, dan budaya.

Saat ini sudah ada beberapa waralaba lokal di pasar luar negeri, kendati persen-tasenya masih kecil, sekitar 1%-2%. Ada beberapa pasar luar negeri yang cukup berpotensi, seperti Malaysia, Singapura, Filipina, dan Thailand. Bahkan, waralaba lokal sudah menembus pasar Cina dan beberapa negara di Timur Tengah.

Pesatnya perkembangan bisnis waralaba ternyata tak hanya memikat perseorangan untuk menggeluti bisnis tersebut. Perbankan pun tak mau ketinggalan untuk ikut ambil bagian, khususnya dalam hal permodalan. Sederet bank papan atas, seperti Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Negara Indonesia (BNI), Mandiri, dan Bank Danamon, gencar mengucurkan dana untuk bisnis ini, baik melalui program khusus bagi waralaba maupun UMKM.

Salah satu bank yang memiliki produk khusus bagi waralaba adalah Bank Saudara. Bank ini mulai menggeluti kredit waralaba sekitar 2006. Itu setelah mereka melihat potensi yang cukup besar di pasar, selain pertimbangan belum banyak bank lain yang merambah pasar ini. Kredit macet yang dihadapi selama ini di waralaba pun nyaris tidak ada.

�Peluangnya besar dan juga sudah ada masternya. Administrasi dan prosesnya tertata. Risiko yang akan dihadapi pun harusnya kecil,� terang Yanto M. Purbo, Direktur Bank Saudara.

Tahun 2008 lalu, Bank Saudara telah menyalurkan dana untuk kredit ini sebesar Rp5 miliar sampai dengan Rp10 miliar. Pada 2009, bank ini akan lebih fokus di sektor ini. Target untuk membiayai sektor UMKM pun naik menjadi Rp85 miliar. Sementara, waralaba mendapat porsi sekitar 5%.

DATA FRANCHISE DAN BO
YANG BEROPERASI DI INDONESIA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar